Menggugah “Kicauan” Anies Baswedan

Gambar

Koran Pendidikan edisi 23-29 April 2014

Judul Buku       : Melampaui Mimpi; Anies Baswedan @twitterland

Penulis              : Syafiq Basri

Penerbit            : Mizan

Cetakan           : I, Januari 2014

Tebal                : 245 halaman

ISBN               : 978-979-433-819-3

Peresensi          : Siti Wahyuni, mahasiswa Tarbiyah UMM, pegiat klub pecinta buku Booklicious Malang

Ketika mendengar Gerakan Indonesia Mengajar (GIM), Indonesia Menyala, Kelas Inspirasi, Gerakan Turun Tangan, dan Mata Kuliah Antikorupsi tentu yang ada di benak Anda adalah sosok pemuda yang pada Pemilu 2014 diundang dalam konvensi Partai Demokrat untuk menjadi calon presiden. Anies Baswedan. Nama itu dikenal sebagai sosok inspirator yang selalu mengajak untuk menyalakan lilin sekecil apapun daripada hanya mengutuk kegelapan.

Tidak hanya di dunia nyata, saat penggunaan media sosial seperti Twitter marak di Indonesia, Anies pun menebar inspirasi lewat kicauan-kiacauannya yang lugas, padat berisi, syarat optimisme, menggugah, dan menggerakkan pembaca. Tweet Anies memiliki topik yang beragam. Mulai dari anti korupsi, cinta bangsa, voting di DPR, dokter dan pasien, pahlawan, kebhinekaan dan kepedulian kepada bangsa, tenun kebangsaan, Indonesia Mengajar, hokum dan kriminal, dan lain sebagainya.

Topik-topik mencerahkannya tersebut mengundang banyak pengguna Twitter untuk menjadi followernya. Hingga 8 Desember 2013, Anies sudah memiliki pengikut sebanyak 338. 445 dan terus meningkat. Angka tersebut jauh meninggalkan para tokoh Indonesia lainnya. Bahkan pengikutnya adalah tokoh-tokoh ternama seperti Glenn Fredly (artis), Gita Wirjawan (menteri), Goenawan Mohammad (pendiri Tempo), Gus Mus (ulama), Mohammad Assegaf (pengacara), Mahfud MD, dan lainnya.

Kicauan Anies tak hanya mendapat komentar yang tak jarang dibalas olehnya meski bukan dari tokoh ternama, tetapi juga sering kali direkicaukan dan difavoritkan oleh pengikutnya. Seperti kicauannya pada 28 Oktober 2013; “anak muda memang minim pengalaman-maka tak menawarkan masa lalu. Anak muda menawarkan masa depan”. Kicauan ini diretwitt sebanyak 651 kali dan difavoritkan sebanyak 97 kali (hal. 106). Angka yang sangat banyak !

Tentu ada alasan dan proses di balik sosok yang dikagumi banyak orang. Syafiq Basri menyajikan Melampaui Mimpi; Anies Baswedan @twitterland dengan sangat unik. Mulai dari membahas data-data dalam bentuk bagan tentang negara pengguna Twitter terbanyak di dunia, kota tercerewet di dunia, tokoh yang memiliki follower terbanyak, sampai pada bulan dan hari apa Anies sering menulis di Twitter. Buku ini juga dilengkapi dengan biografi Anies. Biografi itulah yang menjadi jawaban kenapa sosok Anies menjadi populer dan disukai.

Anies lahir dari pasangan Awad Rasyid Baswedan dan Aliyah Ganis. Sang ayah pernah menjadi wakil rektor UII dan dosen di FE UII dan ibunya adalah seorang pengajar dan guru besar di UNY. Bahkan kakeknya, Abdurrahman Baswedan, adalah seorang patriot yang sangat berjasa bagi negara. Terlahir dari lingkungan akademis dan patriotis, membuat Anies tumbuh menjadi anak yang cerdas, berprestasi, memiliki jiwa pemimpin, dan peduli pada negeri.

Saat duduk di bangku SMAN 2 Yogyakarta, ia terpilih menjadi ketua OSIS untuk sekolahnya dan se-Indonesia. Hal itu membuatnya mengalami menetap setahun di Milwaukee, Wisconsin, AS, dalam Program Pertukaran Pelajar (AFS). Saat kuliah di UGM ia menjadi ketua senat mahasiswa dan mendapat beasiswa Japan Airliness Fondation, Universitas Sophia, Tokyo, Jepang. Mendapatkan beasiswa kuliah ke universitas Meryland, dengan memilih Master bidang International and Economic Policy. Kemudian, masih dengan jalur beasiswa, melanjutkan doktoral ke Northern Illinois University dan mendapatkan gelar Ph. D di sana.

Dengan prestasi di bidang akademik dan pengalaman organisasi yang seperti itu, bukan hal aneh jika akhirnya pemuda yang menjabat sebagai Rektor Universitas Paramadina pada usia 38 tahun ini banyak mendapatkan penghargaan dalam berbagai bidang. Ia bahkan pernah dinobatkan sebagai bagian dari 100 tokoh intelektual dunia oleh majalah Foreign Policy, Amerika (hal. 74). Majalah yang selalu menjadi rujukan utama para pengambil kebijakan di berbagai negara karena paling berbobot dalam urusan politik internasional. Selamat Membaca !