Puisi Malang Post 21 Januari 2015

Aku Bodoh
Angka-angka berlari
Menghianati memori
Yang sejak lama mencoba mengerti
Kadang mereka kembali
Membuat nyeri di otak kiri

Aku melihat huruf-huruf berdansa
Terlalu cepat untuk dieja
Mereka terbahak berkata
“Kau bodoh tak bisa membaca,”

Mengapa aku beda?
Tak seragam seperti lainnya
Menghitung sulit, membaca susah, apalagi menulis

Ah, aku bodoh
Orang-orang menganggapku bodoh
Masa bodoh
Aku memang bodoh

Biar aku bermain-main saja
Imajinasiku masih setia
Ini membuatku terlihat gila
Tapi kuas dan kanvas mampu menerimaku apa adanya

Biar aku bernyanyi-nyanyi saja
Meraba-raba nada
Menikmati suara

Biar aku merenung saja
Siapa tahu bukan aku yang bodoh…

Malang, 13 Januari 2015

Kabarkan!

Aku pernah tertahan hujan
Di sebuah perpustakaan
Pada suatu sore yang horor
Denganmu

Kini
Ingin kutangkap hantu penghuni gedung tua itu
Akan kusuruh ia meng-hihi
Sama persis dengan ketakutan di otakku dulu
Dan aku mendengar suaramu,
“Tenang. Ada aku yang lebih seram,”

Kini
Ingin kupaksa sore
Agar tampak sehoror dulu
Dan aku melihat kau merayuku,
“Waktu tetap berjalan cepat, jika denganmu,”

Ingin kutuntut hujan
Untuk turun sederas dulu
Ingin kukatakan
Rinduku tak pernah menyurut
Padamu

Masihkah ada rindu di sana?
Kabarkan padaku!

Malang, 13 Januari 2014

Kurang

Tuhan, tak perlu Kau tambahkan kurang padaku
Aku akan bahagia dengan segala cukup dan lebihku

Lagi pula, bukankah Kau yang bilang,
“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah?”
Biarkan tanganku selalu di atas

Tapi Kau menjailiku
Aku berjalan terseok
Kau bahkan enggan
Untuk hanya membuatku mampu berdiri sendiri
Aku harus menggenggam tangan orang lain
Mencari kekuatan
Tapi coba Kau tengok
Mereka menatapku sinis

Tuhan, jadikan aku serba punya, serba bisa
Meski ku ragu
Akankah mampu rendah hati nanti?

Malang, 13 Januari 2015

By Yunie Enaya Sunaya Posted in Puisi