Reaktualisasi Mapel PAI di Sekolah

Gambar

Koran Pendidikan. Rubrik Wacana. Edisi 14-20 Mei 2014

Alokasi waktu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) sangat sebentar, yaitu 4 jam untuk Sekolah Dasar (SD) dan 3 jam untuk Sekolah Menengah Petrama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) dalam satu minggu (Kemendikbud, 2012), bahkan kurikulum sebelumnya (KTSP) hanya mengalokasikan waktu 2 jam perminggu. Hal ini membuat PAI di sekolah umum hanya menjadi pelengkap saja. Belum lagi guru menyampaikan materi dengan cara-cara lama yang kurang mempertimbangkan perkembangan zaman membuat belajar PAI menjadi hal yang sangat membosankan (Tobroni, 2011). Alhasil, jangankan untuk menanamkan nilai-nilai akhlak seperti yang selama ini dipercayakan kepada PAI, untuk belajar secara kognitif saja siswa merasa tidak butuh.

Jika PAI dipercaya sebagai mata pelajaran yang sangat penting, yaitu untuk membentuk siswa yang berakhlak mulia dan memiliki moral yang baik terutama pada kondisi negara yang sudah mengalami krisis multidimensional (Muhaimin, 2012: 18) ini, maka harus ada perubahan paradigma dalam penyampaian materi PAI. Paradigma yang harus digunakan adalah paradigma nondikotomi, penyeimbangan aspek pendidikan, dan paradigma kemanusiaan.

Pertama, harus disadari bahwa alokasi waktu yang sangat sebentar, walaupun bukan merupakan hal mustahil, tentu sulit untuk mampu membina akhlak siswa, maka paradigma yang dipakai adalah paradigma nondikotomi. Selama ini PAI dikembangkan dengan paradigma dikotomi (Muhaimin, 2012: 31), yaitu paradigma yang membagi dua hal yang bertentangan. Paradigma inilah yang memunculkan istilah ilmu agama dan ilmu non agama. Hal ini membuat PAI dan mata pelajaran lainnya berjalan sendiri-sendiri. Padahal, mata pelajaran lain bisa digunakan sebagai media pembelajaran PAI. Maka, harus ada kolaborasi dalam penyampaian materi antara PAI dan mata pelajaran lainnya. Pelajaran Ekonomi harus menjelaskan pada siswa bahwa boros adalah hal yang dilarang agama, pelajaran IPA harus mengajarkan kepedulian terhadap alam sekitar, pelajaran bahasa harus mengajarkan etika berkomunikasi, pelajaran sejarah mengajarkan cara menghargai para pahlawan, dan sebagainya (Muhaimin, 2012: 20). Maka, guru-guru harus diberi pengetahuan dasar mengenai pendidikan agama karena tidak semua guru memiliki latar belakang pendidikan agama. Atau jika tidak, kolaborasi dilakukan dengan cara team teaching, yaitu dalam menyampaikan materi ajar guru-guru membentuk semacam team. Guru PAI mendampingi guru mata pelajaran umum dan menyampaikan nilai-nilai agama yang terkandung pada pelajaran yang baru saja berlangsung. Konsekuensinya, sekolah harus memiliki banyak guru PAI.

Kedua, harus menyeimbangkan antara muatan kognitif, afektif dan psikomotor (Bloom). Untuk mendukung paradigma organisme tersebut, kurikulum PAI harus dikembangkan dengan memerhatikan keseimbangan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. PAI jangan hanya menekankan pada pemahaman tentang agama Islam, apalagi yang hanya menghafal secara tektual tanpa pemahaman kontektual. Dalam menyampaikan materi PAI harus mampu menimbulkan rasa cinta terhadap PAI pada diri siswa, memprovokasi, sehingga siswa mau untuk belajar otodidak di luar kelas bahkan di luar sekolah. Nilai dan pengetahuan yang telah diajarkan secara berkolaborasi tadi harus direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah harus didesain sebagai lingkungan yang memungkinkan untuk mengaplikasikan nilai-nilai agama. Praktik shalat dilaksanakan di mesjid atau musholah. Dalam satu minggu harus menyediakan satu hari yang dipakai untuk mengaji bersama di lapangan atau di mesjid sekolah sebelum memulai kegiatan belajar mengajar. Nilai-nilai kesopanan diaplikasikan saat berinteraksi dengan guru, kakak kelas dan teman sebaya. Kejujuran dilakukan dengan adanya kantin jujur dan sebagainya. Sehingga ketika siswa berada di luar sekolah sudah terbiasa untuk menerapkan nilai-nilai akhlak dan moral.

Ketiga, harus memperhatikan kemajemukan cara belajar siswa, paradigma yang digunakan adalah paradigma kemanusiaan (Tobroni, 2008: 81). PAI harus disampaikan dengan melalui pendekatan humanisme. Paradigma ini menjadikan hakikat kemanusiaan sebagai fokus pembelajarannya. Selalu berusaha memanusiakan peserta didik. Menyadari bahwa siswa adalah pribadi yang unik, yang berbeda antara satu dan yang lainnya. Sehingga dalam mendidik, pendidik tidak memaksakan hasil yang sama antara siswa satu dengan yang lainnya. Paradigma ini populer sebagai pendidikan berbasis multiple intelligence (sistem pendidikan Finlandia dan Sekolahnya Manusia yang digagas oleh Munif Chatib). Pendidik harus berkemampuan pedagogik dan kreatif dalam menyampaikan materi PAI. Sehingga, siswa tidak sadar bahwa mereka sedang belajar PAI yang selama ini dikenal sebagai mata pelajaran yang kolot dan tradisional.

Dengan tiga paradigma tersebut, PAI tidak hanya akan keluar dari label buruk selama ini, tetapi juga akan menjadi mata pelajaran yang digemari siswa. Sehingga, PAI efektif dalam menjalankan tugasnya.