Key

Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi, tapi Malang masih tidur. Awan menggelayut manja di langit sana, membuat matahari malas menjalankan tugasnya untuk bersinar pagi ini. Jalanan depan kos Key yang kebetulan berada tepat di samping kampus terbesar di Malang itu biasanya sudah sangat ramai dengan suara kendaraan menuju kampus, hari ini masih lenggang. Sepi, minim suara, hanya ada gerimis sisa hujan semalam saja. Udara dingin Malang menusuk tulang, membuat malas beranjak dari tempat tidur. Key berdiri mematung di balik daun jendela yang baru saja dibukanya. Tatapannya kosong. Butiran air meleleh dari mata sipitnya. Malang memang sedang sepi, tapi hati Key sedang ramai. Gundah. Key mengangkat kaki panjangnya, duduk di kusen jendela, memeluk lutut.

“Bodoh!” maki Key dalam sedunya. Hatinya perih mengingat Han. Ya Han, laki-laki yang meruntuhkan prinsipnya. Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) basket itu membuatnya melayang satu bulan lalu, dan kini menghempaskannya begitu saja. “Bodoh!” Key memukul-mukul kepalanya, menyesali ‘perbuatannya’, menangis sesugukan.

***

Key berlari zig-zag mendrible bola, menerobos lawan di depannya. Key tekenal liar di lapangan. Larinya yang cepat, gerakannya yang gesit, membuat lawannya kadang hanya ingin mematung saja, menonton betapa licinnya Key. Tap, tap, tap, lalu, “Shootttttt!” Key melakukan shoot.

Suara musik dari operator di sudut kiri lapangan mengiringi suasana tegang di lapangan basket malam itu. Ini adalah babak ke empat di final, dan waktu main hanya tinggal lima menit. Tim basket putri Fakultas Teknik, lawan Fisip di final, sudah menyerah. Skor Fisip tiga angka di atasnya. Sedangkan si liar Key pasti mencetak angka lagi.

Hap! Bola yang dibawa Key melompat indah menuju keranjang, lalu terjun begitu saja.

“ Fisip, two point!” suara operator diikuti tepuk tangan bergemuruh di seluruh lapangan basket. Bunyi terompet menderu-deru sangar, memekakkan telinga. Bedug dipukul keras-keras, membuat gila yang mendengarnya. Fisip yang dikapteni oleh Key menang sebagai juara pertama rector cup kali ini, sama seperti tahun kemarin saat Key pertama kali menjadi kapten di tim basket putri fakultasnya.

“YESSSS!!!” Ucap Key keras, tangannya ditinju-tinjukankan ke udara. Senyum mengembang di bibir gadis tinggi putih itu. Ia lalu berlari memeluk teman satu timnya satu-satu. “Kita, menang, Rek!”

Senyum bangga Key yang mengembang sejak tadi berubah kaku saat Han berlari ke tengah lapangan untuk menyalaminya, menggenggamnya erat tanpa hijab. Key salah tingkah. Han menunjukkan senyum termanisnya di hadapan Key yang mampu membuat pipi Key yang putih berubah seperti kepiting rebus. “Selamat, ya.” ucap Han membuat jiwa Key meluncur menuju angkasa. Terbaaaaaaang.. Tak mampu berkata-kata, Key hanya mengangguk kaku.

***

Berhari-hari senyum Han belum juga terhapus di memori Key, senyuman manis yang khusus diberikan untuknya. Semenjak kejadian itu Key jadi sering senyum-senyum sendiri dan betah berlama-lama berdiri di depan cermin. Key kasmaran. Terlebih Han mulai sering menghubunginya lewat SMS, walaupun masih sekedar mengajak latihan basket saja.

Key memang atlet basket sejak SMP. Dia menyukai semua hal tentang basket. Kamarnya pun penuh dengan aksesoris bola basket. Mulai dari waker, bantal, frame photo. Tapi, Key tidak suka dengan seragam basket yang selalu seksi. Key selalu berpakaian ‘aneh’ sendiri. Saat teman-teman se-timnya hanya menggunakan seragam pendek, Key menambahkan baju dalam yang menutupi semua auratnya. Belum lagi jilbab yang tak pernah lepas dari kepalanya, membuatnya sempurna aneh di antara teman se-timnya yang tampil seksi memamerkan paha ramping mereka. Key sebenarnya menggilai dua hal, basket dan kegiatan rohani di sekolahnya dulu, juga di kampusnya kini. Menurutnya dua hal itu bisa membuatnya tenang. Maka begitulah Key. Aneh. Lebih aneh jika tau bahwa dia juga punya prinsip tidak pacaran sebelum menikah.

Tapi kini Key takut, kalau-kalau prinsip itu harus dilepas olehnya. Prinsipnya memang sudah menggoyang semenjak kenal Han di lapangan basket setahun lalu. Atlet jangkung itu selalu sukses membius napasnya. Membuatnya terbengong saat sedang melihat keindahan Han memainkan bola. Gaya lay upnya yang khas, driblenya yang lincah seperti gerakan break dance, terlebih Han memang jago mencetak three point. Key mengagumi kakak tingkatnya itu.

Pacaran, apakah itu salah? Batinnya mulai sering memprotes prinsip konyol itu. Mengingat-ingat lagi alasan mengapa dulu memilih tidak pacaran sebagai prinsipnya. Agar orang lain menganggapnya‘suci’? Pacaran, bukankah itu hal lumrah?

Sakunya bergetar, melemparkan Key ke dunia nyata. Key menggeleng-gelengkan kepalanya kasar, menepis semua pikiran di benaknya.

Malam mingguan ma sapa?

Han. Han yang SMS seperti itu. Pipi Key memerah.

Ma laptop aja di kamar

Entah kenapa perasaan lain seolah menyeruak, memaksanya untuk berharap Han mengajaknya pergi.

Lho, koq? Gak ke luar, kah?

Tanya Han penuh selidik.

Di luar dingin

Hatinya sudah mengikuti bisikan itu. Dia berharap Han akan mengajaknya ke luar malam ini.

Aku jemput kamu, ya?

Eh? Key tak percaya dengan SMS yang satu itu, dia membacanya berulang-ulang. Lalu, tanpa diperintah, jarinya mengetik tiga huruf.

Yup

Malam minggu itu Key, Han, dan Byson merah tua meluncur meninggalkan kos. Meninggalkan prinsip Key yang gila itu. Malam ini Key hanya ingin merasakan pergi, pergi dari rutinitasnya mendekam di kamar setiap kali malam minggu tiba. Malam itu Key diajak ke tempat nongkrong Han dan teman-temannya. “Wuih, Han. Mantep iki!” salah satu teman Han menyalami Han, menepuk bahu Han keras. Lalu menatap Key dari atas sampai bawah dengan senyum puas. Tindakannya tentu saja berlebihan menurut Key.

***

Ini adalah Minggu keempat pasca malam Minggu itu. Han dan Key kini menjadi sangat dekat. Seluruh kampus, terutama yang gila basket, sudah mengetahui itu. Key dan Han bahkan sudah resmi pacaran. Prinsip tidak pacarannya dia lucuti begitu saja. Sebagian orang memaklumi saja, sebagian memaki. Key tidak peduli dengan itu semua. Toh manusia bisa berubah kapan saja. Perasaan Key minggu-minggu ini seperti bola basket yang selalu dia shoot, melayang. Tapi, bukankah bola basket selalu jatuh setelah terbang?

“Han, kapan kamu ninggalin Key?” suara itu terdengar tak jelas di telinga Key.

“Bentar lah, aku baru jadian ma dia!” suara lain menjawab. Itu suara Han. Key penasaran. Dia memasang kupingnya, mencuri pembicaraan dua orang yang berada tak jauh darinya. Han dan temannya yang ditemui empat minggu yang lalu di salah satu warung kopi di kawasan Sukarno-Hatta, berada di bibir kolam kampus. Tepat di depan Key yang sedang bersembunyi di balik pohon.

“Betah banget pacaran ma bu ustadz! belajar ngaji koen tiap hari, Han?” Logat Jawa Malangnya sangat kental. Meledek.

“Aku akan putusin Key asal koen tepatin janji yang dulu kita buat” tantang Han pada temannya. “Tapi, se’…” Han mengerlingkan sebelah matanya, menggoda temannya. “Aku gak bakal putusin dia sebelum dapetin bi…” birnya, kata itu tak sempurna terucap, tercekat ditenggorokan. Mata Han terbelalak ketika melihat Key sudah berdiri di sampingnya, tersenyum.

“Kamu lagi apa?” Tanya Key dengan wajah biasa. Seolah-olah dia tidak tahu apa yang diobrolkan dua mahluk bejad itu. “Aku nyariin kamu, Han. Dari tadi,” Key menyembunyikan sakitnya, menyembunyikan air matanya. Yang ditanya malah gelagapan.

“Ayo, katanya mau jalan? Udah seleseai, kan, ujiannya?” Han hanya mengangguk kaku, menjawab tanya Key. Ini adalah hari Sabtu, hari terakhir ujian akhir semester mereka. Detik ini dan sebulan setengah ke depan mereka libur. Bukankah harus dirayakan? Lalu mereka pergi meninggalkan teman Han yang tak kalah shocknya. Malam minggu keempat Key bersama Han tak seindah biasanya. Pikiran Key melayang entah ke mana. Kenyataan itu terlalu perih. Tapi di hadapan Han dia tetap tersenyum. Key tidak mau membuat Han merasa gagal dalam misinya untuk menjatuhkan prinsip Key yang terkenal aneh itu.

***

Sejak byson merah tua itu mengebut menjauhi kos Key, sejak punggung Han menghilang di antara kendaraan lain, sejak itu lah tangis Key pecah. Air matanya mengusap pipi pucat Key. Sesal berkecamuk di hati Key. Saat ini dia benar-benar mengakui, Han adalah lelaki yang sangat keren dalam bermain basket. Dan Key, merasa seperti bola basket. Dia ditangkap, dilempar ke udara dan jatuh. Selama ini Key tak lebih dari sekedar bola basket, mainan buat Han.

Key mengingat kembali alasan kenapa dia dulu memilih prinsip langka itu. Pacaran memang hal lumrah. Pacaran memang tak apa asal mampu menjaga diri. Tapi, siapa yang bisa menjamin bahwa dirinya mampu menjaga diri? Key bersyukur, Allah mengingatkannya untuk kembali memegang teguh prinsip anehnya itu.

Dimuat di rubrik Budaya majalah Matan (Majalah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur), edisi September 2014