Pong (Tidak) Bodoh

Photo-1433

dokumentasi pemuatan di majalah *halah*

Embun pagi masih bergelayut di dedaunan kecil pinggir jalan tak beraspal. Matahari iseng memanasinya, memaksanya untuk segera beranjak meninggalkan daun yang mulai terbangun.  Terdengar suara beberapa langkah sandal jepit yang tak lama lalu menapak di dekat embun itu, sang embun terpaksa jatuh, mungkin karena kaget, atau dia sudah sadar bahwa hari sudah semakin siang. Langkah sandal jepit itu adalah langkah ibu-ibu yang hendak menghadiri acara kenaikan kelas anak-anaknya yang masih berseragam putih-merah. Suara langkah itu samar-samar menjauh, namun obrolannya masih jelas terdengar oleh embun, daun, matahari dan pagi. Obrolan tentang anak-anak mereka dan hal-hal yang membuat mereka bangga, obrolan tentang rangking dan semacamnya.

Embun sudah lama hilang, matahari pun sudah mulai naik ke atas, ke atas… hampir sudah ada di atas kepalaku. Aku baru menapakkan kakiku yang bersepatu di jalan yang sama dengan jalan yang dilalui ibu-ibu pagi tadi. Ya, aku pun hendak menghadiri acara kenaikan kelas itu. Aku menghadiri kenaikan kelas adikku, Pong, yang baru kelas 5 SD. Mungkin daun, matahari dan pagi yang sudah tak pagi itu ingin bertanya, “kenapa aku datang terlambat? Padahal acara sudah dimulai sedari tadi, sudah tidak ada acara hiburan yang membuat uang-uang orang tua siswa tak nyaman berada di dompet, membuat uang berlarian memberi saweran pada anak-anak SD yang tengah bernyanyi dengan lucunya. Mengapa aku datang saat orang-orang sebentar lagi pergi?” akan kujelaskan pada kalian nanti. Nanti setelah aku menemani Pong mengambil rapor.

***

Aku dan Pong pulang membawa rapor itu.

“Pong dapat rangking?” tak ada yang bertanya begitu. Semua anggota keluarga sudah yakin Pong tidak akan mendapatkan itu. Oh, bukan, bukan seluruh keluarga… seluruh kampung, seluruh desa, bahkan keyakinan Pong lebih jauh lagi. Seluruh dunia pun tau bahwa dia bodoh.

“Ibu bilang juga apa?! Biarkan Pong pergi sendiri! Biarkan dia tau bagaimana malunya menjadi siswa terbodoh di sekolahnya! Biarkan dia tidak punya teman saat malu… biar tau malu…” seperti biasa Pong menatap Ibu malas lalu nyelonong meninggalkannya yang tengah berapi-api. Masuk kamar. Lempar rapor ke atas lemari tua yang berantakan. Mengganti baju seragam merah putih degan seragam bolanya. Menali sepatu kets dan pergi tanpa pamit.

“Pong, kamu itu… arghhhhhh…!!!!! Anak nakaaaallll… berandaaallll….” Ibu kesal dan melemparnya dengan sandal jepit. Pong lari terbirit diikuti tatapan jijik tetangga.

***

Ini yang ingin aku ceritakan pada embun, daun, dan matahari pagi itu.

Kalian mungkin sadar, ini Indonesia. Oh, andai kalian tau internet, pasti setiap hari dijejali dengan berita-berita dunia yang menyoroti Indonesia dan segudang prestasinya. Misalnya, Indonesia memiliki prestasi sebagai negara terkorup, negara terkotor, negara termiskin.. atau tentang Indonesia dengan rekor-rekornya. Misalnya, jembatan Robin Hood yang di luar negeri hanya ada di film, di Indonesia ditemukan nyata di daerah Lebak, Banten. Tapi, aku tak ingin terlalu mengagung-agungkan Indonesia dengan segudang prestasi dan rekornya itu, soalnya kadang malu juga, ya meski hanya kadang-kadang, tapi jika sadar aku pun terlahir dan dibesarkan di sini, mengagung-agungkan Indonesia rasanya seperti mengangungkan diri sendiri. Aku tak boleh sombong!

Masalah Pong, adikku itu. Ah, kalian jangan percaya bahwa dia bodoh. Jangan percaya pada ibu-ibu bersandal jepit itu. Biarkan saja bibir mereka dower membicarakan Pong. Menjelek-jelekkannya..bilang bahwa Pong adalah anak bodoh, bukankah negara ini penuh dengan orang bodoh? Aku malah percaya merekalah sebenarnya yang bodoh karena tak tahu potensi anak. Aku yakin Pong adalah anak yang mau ke luar dari zona nyaman, meski di luar zona itu memang tak nyaman. Pong tak mau dijejali muatan kognitif yang berlebih tanpa asupan afektif dan psikomotor. Ia ingin belajar sesuai hobinya.

Pong dan beberapa siswa Indonesia ini hanyalah korban. Korban ketidakbecusan pemerintah dalam menata negara. Menata pendidikan. Pemerintah ini aneh. Kenapa sangat hobi berganti kurikulum pendidikan? Ganti kurikulum bahkan lebih sering daripada ganti underwear… eh? Ups.. ya begitu lah.. maksudku, sebenarnya berganti kurikulum itu tidak penting-penting amat, bagiku yang terpenting adalah memperbaiki sistem pendidikan. Cuma, aku dengan pemerintah kan memang berbeda, aku bilang berganti kurikulum itu tidak penting karena aku tak dapat apa-apa dari pergantian kurikulum itu, sementara pemerintah? Wah, itu proyek besar! Tak mungkin jika dilewatkan.. mereka berbisnis dengan dalih memperbaiki pendidikan.

Pendidikan seharusnya tidak hanya dilihat bagaimana siswa mampu menhgafal. Tidak hanya dilihat bagaimana siswa pintar membaca, menulis atau pun menghitung. Ada hal yang paling urgent  yang sudah dilupakan terlalu lama di negeri ini. yaitu, minat dan bakat siswa.

Matahari dan dedaunan pagi, aku berharap suatu saat kalian bisa melihat Indonesia berubah. Terutama di bidang pendidikan. Pendidikan yang kata orang Jepang adalah hal yang paling pokok dari keberhasilan suatu Negara. Masih ingat kan apa yang ditanyakan oleh kaisar Jepang saat Hiroshima dan Nagasaki dibom habis-habisan pada perang dunia kedua? Kaisar bertanya “berapa guru yang masih hidup?” Guru! Benar memang guru penentu pendidikan, bukan pemerintah. Di Finlandia gurulah yang berhak menentukan lulus tidaknya siswa. Di Indonesia? UNlah yang menentukan masa depan siswa, dan kau tau, UN adalah produk pemerintah.. hey, ternyata pemerintah Indonesia suka sekali ikut campur maslah pendidikan!

Huduh, jauh sekali aku bercerita… sampai ke luar negeri segala! He

Oke, intinya aku hanya ingin menjawab pertanyaan kalian pagi itu.

Mungkin kalian sudah melihat Pong ratusan kali berjalan melewati kalian dengan seragam merah-putihnya. Mungkin kalian juga tak asing dengan cerita tentang kebodohannya. Waktu pagi aku berdebat dengan orang tuaku tentang siapa yang seharusnya menghadiri acara itu. Aku menyuruh ayah dan ibuku untuk hadir memberikan saweran saat nama Pong dipanggil. Aku menyuruh mereka untuk mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang saat Pong merasa kecewa dengan prestasinya yang jauh di bawah teman-temannya. Aku menyuruh mereka untuk memberikan motivasi untuk Pong ke depannya. Tapi, ucapanku dianggap tak sesegar angin pagi. Bahkan mungkin terlalu panas jika dibandingkan dengan angin di pesisir siang bolong, sehingga mereka kegerahan dan malas untuk keluar rumah, mengadem saja di bawah kipas angin. Daripada harus capek-capek ke sekolah dan mendengarkan ocehan ibu-ibu gemuk yang membanggakan anaknya secara berlebihan, atau menghina Pong secara berlebihan.

Maka aku pergi menghadiri acara kenaikan kelas itu, dengan harapan bisa membesarkan hati Pong yang sebenarnya sudah hancur sejak lama. Aku hanya ingin memberikan keyakinan padanya bahwa dia tidak bodoh.. sistem pendidikan Indonesia yang serba kognitif lah yang membuatnya terlihat bodoh. Aku juga katakana pada Pong bahwa hobinya dalam sepak bola adalah kecerdasan, cerdas pada bidang psikomotor.

Aku bercerita ini pada kalian, karena aku tak yakin jika kuceritakan pada orang-orang kampung, atau orang Indonesia semuanya, mereka akan mau mendengarkan.. dan, jika nanti aku sudah kembali ke Finlandia untuk melanjutkan kuliahku, aku berharap kalian mengatakan ini pada Pong, “Pong, kau tidak bodoh !” setiap pagi.

***

Pong dengan badan tinggi kurusnya berlari mengejar bola. Kakinya sangat lincah menggocek bola. Untuk anak seusia dia, bagiku, Pong sangat mahir bermain bola, tak salah jika dia dijadikan kapten tim bola anak di kampung kami, meski itu tak sedikit pun membuatnya dibanggakan.

Aku melihat senyum Pong mengembang. Dia heboh sendiri menonjok-nonjokkan tangannya ke udara. Petandingan antar desa se-Kecamatan telah dimenangkannya.. teman-teman se-timnya memeluk Pong erat.. tapi ada yang masih aneh di lapangan itu, aku tak melihat ibu dan ayah….

NOTE: menjadi juara pertama perlombaan kepenulisan cerpen pada acara Rector Cup UMM 2013 dan dimuat di majalah Mata Hati.
penilaianku tentang cerpen ini: alay. sok provokatif. pengetahuanku tentang pendidikan masih minim dulu. sekarang agak nambah. cerpen ini ditulis on the spot. ide spontan.. harap dimaklumi. hehe.. 😀

Iklan