Salah Jurusan

Tiga puluh dua siswi berkumpul memenuhi ruangan empat kali empat meter. Mereka melilitkan ujung jilbab menutupi hidung, menggerutu mengutuki ruangan yang pengap dipenuhi aroma tepung gypsum, membuat mereka mual saja. Dinding ruangan itu dipenuhi coretan cat dan beberapa lukisan usang menggantung, membuat penampilan ruangan sempurna seram. Ini adalah ruangan seni, ruangan yang paling dibenci oleh siswi kelas XI IPA IV.
“ngegyp lagi ngegyp lagi! Dasar tuan Krab! Cuma uang yang ada dipikirannya!” hujat mereka dalam hati. Tuan Krab adalah panggilan untuk pak Tino, guru seni rupa yang menurut mereka matre. Julukan itu sepakat mereka ambil dari tokoh kartun kepiting yang gila uang. Pak Tino lebih tepat digelari pembisnis dibandingkan guru. Saking kuat minat bisnisnya, sampai-sampai setiap pertemuan siswi-siswinya dimintai uang untuk membayar tepung gypsum yang akan dipakai untuk praktek membuat patung. Tidak tanggung-tanggung, harga yang dipasang pun dua kali lipat daripada harga pasar. Hal ini membuat siswi-siswi kelas XI IPA IV dan kelas-kelas IPA lain malas ke ruang seni. Lagipula, anak IPA mana suka dengan pelajaran seni? Di mana-mana IPA ya menghitung, bukan melukis atau membuat patung. Mata pelajaran yang satu ini benar-benar membuang-buang waktu!
Tapi, coba lihat Finna! dia terlihat begitu asyik dengan pekerjaannya. Tangannya lincah menakar tepung gypsum, mengaduknya dengan air lalu menuangkannya pada cetakan patung berbentuk kartun favoritnya. Sementara menunggu patungnya kering, Finna memilih-milih kuas dan mengambil cat lukis warna pokok; merah, biru, dan kuning lalu membuat warna sekunder, tersier, dan kuarter. Finna menyandarkan tubuhnya pada daun pintu, memulai menikmati jiwanya yang menyatu dengan tarian kuas pada patung di tangannya.
Memang sangat berbeda dengan teman-temannya. Finna justeru bersyukur dengan pelajaran yang satu ini. Selama duduk di bangku SMA dan mengambil jurusan IPA, yang membuat dia merasa ‘ada’ hanya mata pelajaran seni rupa dan olah raga saja, selain itu jiwanya selalu melayang meninggalkan raganya yang terperangkap di kelas. Menurutnya kematrean tuan Krab tak pernah masalah. Bahkan anugerah. Hanya mengocek uang saku dua belas ribu rupiah per pertemuan dia bisa menemukan ‘dirinya’ dan melupakan rumus-rumus fisika, kimia, matematika dan hafalan bahasa latin pada mata pelajaran Biologi, yang menurut Finna, sangat memusingkan kepala. Seni memang jiwanya. Melukis adalah hobi akutnya. Bahkan sejak TK pun buku tulisnya tak pernah berubah, selalu penuh dengan lukisan. Tapi kenapa dia mendekam di SMA jurusan IPA? Bukan di SMK jurusan seni rupa?
Salah jurusan? Jawabannya ada dua; ya dan tidak. “Ya” jika Finna yang menjawab dan “tidak” menurut ayah dan ibunya. Bukan sekali dua Finna mengungkapkan bahwa hobi dan bakatnya bukan di hitung-menghitung melainkan di seni, terutama seni lukis, tapi orang tua Finna tak pernah menggubris. “Pelukis itu tidak punya masa depan, Finna. Percaya sama ayah!” penjelasan ayah Finna saat Finna menolak masuk SMA negeri, Finna ingin masuk ke SMK dan mengambil jurusan seni rupa. Finna pun hanya bisa mengalah dan berniat untuk mengikuti apa kata orang tuanya, masuk SMA dan saat kelas dua mengambil jurusan IPA. Mengambil jurusan IPA adalah satu-satunya gerbang khusus menuju fakultas kedokteran di universitas nanti. Itu harapan orang tua Finna. Harapan yang dulu merupakan cita-cita yang tak sempat tercapai karena alasan ekonomi keluarga. Alasan ini juga yang kadang membuat hati Finna luluh, orang tuanya sangat berharap menjadi dokter dan dia adalah harapan untuk bisa mewakili meraih gelar itu. Awal-awal sih Finna masih bisa memaksakan diri untuk akrab dengan angka dan bahasa latin, tapi lama kelamaan kerjaanya di kelas hanya menggambar guru yang sedang mengajar. Walhasil nilainya selalu buruk. Melihat itu, ayah Finna mengursuskannya setiap pulang sekolah. Bahkan sepulang kursus pun masih diprivat oleh ayahnya sendiri.
Bunyi bel mengagetkan Finna yang sedang serius menyemprot patung yang sudah selesai dicat dengan pilok bening agar terlihat terang dan cantik. Urat keningnya dikerutkan berlipat-lipat. “Habis ini pelajaran Fisika.” Finna berdiri dan berjalan dengan gontai menuju ruang kelas yang dianggapnya sebagai neraka dunia.
“Finna, teman-teman kamu sudah bisa semua tentang bab ini. Masa kamu tidak mengerti juga?” protes bu Femi kesal.
“Bu, maaf, saya tidak minat dengan mata pelajaran yang ibu ajar.” jawabnya lirih, meminta pengertian. Bu Femi kaget sekaligus simpati dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulut muridnya yang sepertinya sudah sangat lama dipendam.
“Tidak minat bagaimana maksudnya, Finna? Jika tidak minat, kenapa memilih jurusan IPA?” bu Femi mulai mendekati kursi Finna. Yang didekati mulai menitikkan air mata. Seluruh temannya diam. Kelas menjadi senyap.
“bukan saya yang memilih, Bu. Bukan atas keinginan saya.” Finna menceritakan semuanya.
***
Finna duduk memeluk lutut. Giginya sibuk mengigiti bibir. Panik, takut. Tangannya membolak-balik amplop putih, undangan untuk orang tuanya. Pengakuannya tadi berujung di ruang BK (Bimbingan Konseling) dan pihak sekolah ingin membicarakan masalah Finna dengan orang tuanya secara baik-baik. Mengetahui itu tentu saja Finna senang, pihak sekolah memihak padanya, tapi di lain sisi dia takut, takut jika orang tuanya kecewa dan malu karena Finna telah ‘mengadukan’ mereka.
Di pinggir jalan itu, Finna telah mematung di sana selama hampir dua jam. Teman-temannya sudah sepi meninggalkannya. Finna mengangkat kaki dan mulai mengayun langkah menuju angkutan kota di hadapannya. Ayahnya libur menjemput, katanya di kantor sedang sibuk. Finna juga sedang tidak bergairah untuk meminta tebengan temannya yang searah dengannya.
“Paaak, berhentiii!” Finna sedikit berteriak. Baru menyadari angkutan kota yang dinaikinya tadi berbeda arah dengan rumahnya. “Saya salah naik, salah jurusan” Finna nyengir kuda, garuk-garuk tak gatal. Supir angkutan kota ikut garuk-garuk kepala, aneh. Seusai memberikan recehan pada sopir, Finna berdiri di pinggir jalan. Menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya panjang juga. Dilihatnya lagi surat undangan untuk orang tuanya yang sudah berada di tas. Diambilnya. Ditatap dengan mantap.
“Ya, ayah, ibu, aku hanya tak ingin salah jurusan. Maafkan aku. Aku janji, di jurusan yang aku minati, aku akan membuat kalian bangga.” tekadnya, mengulum senyum. Finna siap meminta ayah dan ibunya untuk hadir pada undangan ketua BK besok.
Dengan hati-hati Finna memilih angkutan kota, ditatapnya lekat-lekat.
“Jika salah jurusan, aku takkan sampai tujuan, aku takkan sampai rumah” gumamnya, menyimpulkan senyum.

Dimuat di Rubrik Cerpen Malang Post, Jumat, 18 Juli 2014