Belajar Parenting pada Cinta Everlasting

Gambar

Judul buku      : Everlasting Love

Pengarang       : Alit Tisna Palupi, dkk

Penerbit           : GagasMedia

Cetakan           : I, 2013

Tebal               : viii + 232 hlm, 14 x 20 cm

ISBN               : 979-780-680-4

Peresensi         : Siti Wahyuni, pegiat klub pecinta buku Booklicious-Malang, mahasiswa Tarbiyah UMM.

Jika ingin tau kenapa berbakti kepada ibu tiga kali lebih penting dibandingkan kepada ayah, maka bacalah buku Everlasting Love ini. Buku ini berisi sebelas cerita pendek tentang suka duka melahirkan dan mengurus anak. Sebelas penulis itu adalah Alit Tisna Palupi, Asmara Letizia ‘Miund’, Gita Romadhona, Laila Achmad, Lucy Wiryono, Miera Anastasia, Nia Nurdiansyah, Ninit Yunita, Smita Diastri, Stella Ang, dan Windry Ramadhina. Sebelas penulis tersebut dengan bahasa yang ringan mampu menjelaskan betapa tidak mudah untuk menjadi seorang ibu.

Di dalam tulisannya, para penulis mengakui betapa melahirkan itu sakit, menyusui itu perih, membuatkan makanan pertama untuk itu susah, mengasuh anak itu menguras energi dan emosi, dan bahwa mendampingi anak yang sakit itu membuat ibu juga menangis. Namun, hal tersebut tidak membuat mereka menyesal menjadi ibu, justru sebaliknya, menjadi ibu membuat mereka lebih sabar sekaligus lebih detail, menjadi lebih fleksibel sekaligus lebih disiplin, menjadi lebih rileks kepada diri sendiri sekaligus lebih cermat mengamati tumbuh kembang si kecil.

Belum lagi banyak hal yang tak bisa diduga dan tak sesuai dengan apa yang telah dipersiapkan. Seperti yang dialami oleh Gita Romadhona, ia harus mengalami operasi Caesar setelah selama Sembilan bulan mempersiapkan diri melahirkan secara spontan. Gita juga tidak bisa melaksanakan rencananya untuk Imunisasi Menyusui Dini dikarenan obat penenang membuatnya tertidur pulas setelah melahirkan (hal. 9). Cerita serupa juga dialami Laila Achmad yang sangat idealis sebelum melahirkan namun penuh maklum sesudahnya. Ia selalu mencibir ibu yang memberi susu formula bagi anaknya, karena menurutnya susu formula lebih berbahaya daripada sekaleng racun tikus! Namun, pada kenyataannya ia pun harus memberikan makanan itu pada anaknya karena mengalami penyakit jamur pada puttingnya (hal. 153).

Selain itu, pihak di luar si anak juga akan menambah ramai permasalahan. Hal ini dialami oleh Lucy Wiryono. Di tengah kesedihan dan kekhawatirannya karena putrinya didiagnosis mengidap penyakit autisme, orang tuanya dan orang tua suaminya yang sama-sama baru memiliki cucu untuk pertama kali memposisikannya pada posisi antagonis bagi anaknya. Menurut dokter, putrinya harus melakukan terapi perilaku, terapi okupasi, sensori intrasi, sampai pada terapi wicara (hal. 25). Dokter juga  menyuruh menerapkan terapi diet non-gluten (menghindari makanan-makanan yang mengandung tepung terigu dan turunannya), dan diet non-casein (menghindari makanan dan minuman yang mengandung susu sapi dan turunannya) pada buah hatinya, dalam upaya penyembuhan (hal. 26). Di saat dia harus disiplin menjalani berbagai terapi yang disarankan dokter tersebut, sang nenek hadir dengan kelonggaran-kelonggaran yang jurtru membahayakan kesehatan sang putri. Solusi yang ditawarkan oleh Lucy bagi ibu yang mengalami hal serupa adalah bahwa menyamakan tujuan pengasuhan anak bersama para nenek adalah hal penting (hal. 39). Jangan sampai dihadapan anak menunjukan perbedaan tujuan atau lebih parah bertengkar.

Di antara banyak ibu yang mengkhayalkan bersama-sama si kecil selama 24 jam, seperti yang dialami oleh Asmara Letizia ‘Miund’ yang harus kembali bekerja setelah melahirkan, ada seorang ibu yang mengaku jenuh dan lelah sampai membuatnya menangis meminta libur mengasuh anak kepada suaminya. Cerita itu disampaikan oleh Windry Ramadhina. Justru libur mengasuh anak membuatnya merasa kangen dan ingin segera pulang. Menurutnya, sekali-kali ‘jauh’ dari anak itu penting untuk menghindari kejenuhan.

Maka, selain menjadi ibu yang cerdas, perempuan juga harus pandai memilih patner (baca: suami) yang cerdas pula agar kesulitan-kesulitan mengurus bayi tersebut bisa diatasi. Hal ini diceritakan oleh Smita Diastri dalam ‘It Takes Two Tango’nya. Smita menggambarkan bahwa duet ibu-ayah dalam mengurus anak adalah seperti duet penari Tango.

Buku ini sangat cocok menjadi referensi parenting Anda. Karena melalui buku ini, kita belajar dari pengalaman orang lain. Meskipun tentu, pengalaman pribadi adalah guru yang paling baik. Selamat membaca !

Iklan