Pengalaman Tes Golongan Darah

image

Saya paling tidak kuat melihat darah. Kalau melihat darah badan saya sering langsung lemas, pandangan kunang-kunang, mual, dan mencret. Lebay, yah.. Tapi serius..

Waktu SMP ada mapel tata busana. Suatu hari saat praktek menjahit, teman yang duduk tepat di sebelah saya jarinya tertusuk jarum mesin jahit hingga beberapa lubang. Kelas menjadi ribut, panik melihat darah yang keluar dari jari teman saya itu. Teman saya langsung dibawa ke UKS. Tak lama, saya pingsan saking ngerinya melihat darah. Akhirnya, saya juga dibawa ke UKS. *ngerepotin deh*

Pernah juga waktu kuliah, saya sakit lalu pergi ke klinik kampus. Dari situ saya diberi rujukan untuk mengambil sampel darah di labolatorium. Setelah diambil darah, saya mencret. Teman saya yang mengantar saya ke klinik itu sampai bingung melihat saya bolak-balik ke kamar mandi, keringat dingin, muka pucat, dan pengen muntah. Saya bilang, ini efek ngeri liat darah.

Atau, kalau teman saya minta diantar donor darah. Dia yang kehabisan darah, eh saya yang pucat pasi. Gimana kalau saya kali ya yang donor? Mati di tempat mungkin. Tapi juga tidak mungkin, soalnya BB saya selalu kurang dari yang disyaratkan.

Sebenarnya saya juga tidak kuat mendengar cerita yang berdarah-darah, seperti kecelakaan dan lain-lain. Kalau ada yang bercerita tentang itu saya biasanya tutup kuping. Pokoknya yang ada darah-darahnya, saya ngeri. Cuma darah haid yang bikin saya biasa saja pas ngeliatnya. Repot juga kalau gak berani liat darah haid sendiri, ya. *Ups, jadi jorok pembahasannya.*

Takut darah ini membuat saya tidak pernah tahu golongan darah saya. Sering saya penasaran dan menebak-nebak. Jika membaca karakteristik seseorang berdasarkan golongan darahnya, saya merasa golongan darah saya pasti B atau tidak AB. Teman saya juga banyak yang mengira saya B.

Saya pernah berkali-kali mengantre untuk ikut tes golongan darah di acara pameran saat ulang tahun kota atau acara gelar donor darah di kampus, tapi sering kabur waktu antrean sedikit lagi. *Payah, ya.. Heu*

Kemarin, 15 April 2016, saya mengurus perpanjangan masa aktif KTP manual di kantor kecamatan Pandeglang. Aduuuh, ternyata saya sudah seberumur ini sampai-sampai harus perpanjang masa aktif KTP segala. Xixi. Kabar baiknya, ternyata KTP sekarang (KTP elektrik) berlaku seumur hidup.

Selesai merekam data di kantor kecamatan, saya disuruh membawa surat pengantar ke kantor catatan sipil untuk mengambil jadwal pengambilan KTP.

Nah, di sanalah perintah mengisi kolom golongan darah diberikan oleh pegawai di kantor capil kepada saya.

“Teh, mohon dilengkapi dulu datanya. Ini golongan darahnya mohon diisi. Silakan tes dulu ke klinik terdekat, baru bawa lagi surat pengantarnya ke sini.”

Dug dug… Ternyata, hari inilah saat saya tidak boleh lagi kabur dari antrean tes golongan darah. Haha. Saya takut, tapi sebenarnya juga menanti tuntutan ini. Sekaligus memberi motivasi untuk tidak mundur. Majuuuuu….!

Angkot melaju mengantar saya ke klinik Bougenville di Ciekek, dan takut-takut saya kayuh kaki saya ke labolatorium tes golongan darah.

“Pak, saya mau cek golongan darah.” kata saya mesem-mesem takut.

“Usianya berapa Neng baru tes golongan darah.” ledek si bapak petugas tes golongan darah sambil melihat KTP saya.

Si bapak itu mempersiapkan alat-alat untuk mengetes golongan darah saya. Saat si bapak itu memijat-mijat ujung jari saya yang sudah diberi obat penawar sakit, saya sibuk membayangkan hal indah.

“Bayangkan lagi di pantai. Lagi di pantai. Lagi di pantai……” ucap saya pelan sambil membuang muka. Kenapa pantai? Soalnya pantai itu indah, bikin lupa segalanya, bahkan kalau ketusuk karang sampai berdarah pun tidak terasa. Hasyah.

Dannnnn.. “cressss!” jarum menusuk ujung jari tengah saya. Rasanya seperti sedang memakai jilbab, terus jarum pentulnya nyasar ke jari. Saya diberi kapas yang sudah ditetesi obat penawar sakit. Beberapa menit kemudian rasa perihnya hilang. Ternyata saya nggak pingsan, nggak pucat, dan nggak mencret. Cuman ngilu.

Saya lihat darah hitam dari jari tengah saya dibuang, lalu yang merahnya diteteskan ke kertas tes.

“Tunggu di depan hasilnya Neng, ya.” kata si Bapak. Saya keluar ruangan sambil terus menempelkan kapas di bekas luka.

Ah, ternyata begini doang rasanya tes golongan darah. Kata hati saya, kecewa karena sudah menakutkannya bertahun-tahun.

Saat hasilnya sudah diketahui. Ternyataaaaa…. Eng….. Golongan darah saya O dengan rhesus plus. Deuuuuh, mainstreamnyaaaaa 😫

Nah, bagi Anda yang takut tes golongan darah, cepet pergi ke klinik gih, terus bayangkan Anda sedang di pantai. Semoga tidak pingsan, ya. Hihi.

Dan Anda yang sudah tes golongan darah, apa golongan darah Anda juga O plus? Katanya, O+ mendominasi penduduk Indonesia, yaitu sekitar 43%. Yuhuy, kita mayoritas!

Untuk saya dan teman-teman yang menebak-nebak golongan darah saya, yehe kita salaaaaahhhh!!! *ups*

Iklan